Rabu, 22 September 2021

NOTULA DISKUSI KEDUA

NOTULA PERTEMUAN KEDUA

Matakuliah: PFISUM8105 Statistik Inferensial

Offering : B

 

Perkuliahan Pertemuan ke-3

 

Tanggal: 15 September 2021 s/d 22 September 2021

 

TEMA/TOPIK: Uji Validitas dan Reliabilitas

 

PEMAKALAH

No

NIM

Nama Mahasiswa

Judul sub-Makalah

1

210321868004

Imam Al Anshori

Uji Validitas

2

210321868009

Miftahuljannah Muslimin

Uji Reliabilitas

 

KEHADIRAN MAHASISWA

1. Jumlah seluruh mahasiswa peserta matakuliah : 16 mahasiswa

2. Jumlah mahasiswa yang hadir                        : 16 mahasiswa

3. Jumlah mahasiswa yang TIDAK hadir           : 0 mahasiswa

No

NIM

Nama Mahasiswa TIDAK hadir

Alasan TIDAK hadir

1

……

……..

……

 

Catatan:

Mahasiswa dinyatakan TIDAK hadir

·         jika ia seorang penyaji, maka ia TIDAK melalukan 3 hal berikut: (1) membuat 1 submakalah, (2) melemparkan topik diskusi, dan (3) menjawab semua pertanyaan yang berkait dengan submakalah, dan atau menanggapi saran/pendapat bukan anggota

·         jika ia bukan penyaji, maka ia TIDAK melalukan 3 hal berikut: (1) mengajukan pertanyaan, (2) menanggapi saran/pendapat mahasiswa lain, dan (3) mengumpulan tugas esei kecil

 

 

NOTULA DISKUSI

Sub Topik 1

Imam Al Anshori – 210321868004 - Penyaji

Topik Diskusi: Apa tujuan dari uji validitas dan seberapa penting uji validitas dilakukan?  Instrumen yang seperti apa yang dikatakan valid? Silahkan bagi teman-teman yang ingin berpendapat. Sekian terimakasih

 

TANGGAPAN TERHADAP TOPIK DISKUSI

 

1. Christina Martha – 210321868003Memberi Pendapat

1) Tujuan dari uji validitas dan seberapa penting uji validitas dilakukan

Validitas adalah tingkatan atau ukuran dari ketepatan suatu instrumen dalam mengukur objek yang diukur, maka tujuan dari uji validitas adalah agar suatu instrumen yang akan digunakan sebagai penelitian sudah tepat dan valid. Hal ini penting agar tidak memakan waktu yang lama untuk trial and error karena instrumen penelitiannya sudah diatur validitasnya sebelum digunakan.

2)  Instrumen yang seperti apa yang dikatakan valid

Jika nilai signifikansi (sig) hasil korelasi lebih kecil dari 0,05 (5%) maka dinyatakan valid dan jika tidak maka tidak valid (arinya butir pertanyaan tersebut gugur) => menggunakan rumus product moment correlation  seperti tercantum pada makalah

Sekian dari saya, terima kasih.

 

2. Neng Dyah Surya Pratama – 210321868002 - Memberi Pendapat

Uji validitas dikatakan penting karena uji ini digunakan untuk menunjukkan sejauh mana alat ukur yang digunakan dalam suatu mengukur apa yang diukur. atau bisa dikatakan uji ini digunakan untuk mengukur sah,  atau valid tidaknya suatu kuesioner/instrumen. Suatu kuesioner/instrumen dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner/instrumen tersebut mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner/instrumen tersebut

 

3. Brilliantama Akbar Taufiq – 210321868025 – Memberi Pendapat

Uji validitas penting untuk dilakukan karena uji ini digunakan untuk menunjukkan atau mengetahui valid tidaknya suatu instrumen dalam penelitian. Suatu instrumen dikatakan valid apabila indikator yang terdapat pada instrumen tersebut mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh instrumen tersebut dan memenuhi syarat.

 

4. Shinta Dewi Susanti – 210321868014 – Memberi Pendapat

Ijin menanggapi, apabila setiap instrumen yang ada dapat digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dan dapat mengukur  dengan sebenar benarnya, jadi misal yang biasanya memiliki nilai rendah akan terukur rendah....bukan malah sebaliknya

 

5. Kurnia Islamiyah – 210321868013 – Memberi Pendapat

Tujuan uji  validitas yaitu untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya yaitu agar data yang diperoleh bisa relevan/sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran tersebut. Instrumen dikatakan valid jia suatu alat ukur (instrumen) untuk mengukur apa yang semestinya diukur.

 

6. Revitasta Rizky Rahmanniar – 210321868011 – Memberi Pendapat

Menurut saya uji validitas dalam penelitian sangat penting untuk dilakukan sebab dengan uji validitas yang dilakukan dapat menyatakan derajat ketepatan alat ukur penelitian terhadap apa yang akan diukur. Dimana dengan uji validitas kita dapat mengetahui sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.

 

TANYA JAWAB

 

1. Selvina Visbad Saiya – 200321859517 – Mengajukan Pertanyaan

Bagaimanakah cara untuk menentukan jenis validitas dan reabilitas dengan tepat yang dapat digunakan seorang peneliti saat ia ingin melakukan suatu penelitian mengingat jenis validitas dan reabilitan dlm penelitian itu banyak?

 

2. Miftahuljannah Muslimin – 210321868009 – Memberi Jawaban

Untuk menentukan uji validitas dan reliabilitas yang digunakan bergantung pada bentuk instrumen penelitian. Misalnya instrumen minat belajar dapat dilakukan uji validitas konstruk dan untuk uji reliabilitas dapat menggunakan cronbach's alpha. Validitas konstruk sendiri biasa digunakan untuk menguji variabel-variabel konsep seperti minat belajar. Untuk Cronbach;s Alpha digunkana untuk menguji reliabilitas instrumen yang skornya bukan 0 dna 1 melainkan berbentuk skala likert.

 

3. Imam Al Anshori – 210321868004 – Memberi Jawaban

Sependapat dengan jawaban mbak Miftahuljannah Muslimin 

Jenis uji validitas yang digunakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan instrumen yang dibuat. Uji validitas dan reliabilitas bertujuan untuk memastikan kelayakan instrumen yang digunakan dalam penelitian. Contohnya jika ingin mengetahui kelayakan suatu instrumen secara kedalaman dan keluasan materi maka dapat dilakukan validitas isi. 

 

4. Neng Dyah Surya Pratama – 210321868002 - Mengajukan Pertanyaan

Jika data tersebut tidak valid, apakah ada cara yang bisa mensiasati masalah tersebut, atau antisipasi apa yang harus dilakukan supaya datanya valid?

 

5. Brilliantama Akbar Taufiq- 200321859517 – Memberi Jawaban

Dari hasil literasi yang saya baca, jika data tersebut tidak valid, mungkin ada faktor-faktor yang menyebabkan suatu instrumen tidak valid antara lain

1. Instrumen penelitian yang tidak dipahami responden.

2. Pertanyaan terlalu banyak dan panjang pada instrumen penelitian.

3. Responden menjawab secara acak tanpa melibatkan pemikiran diri sendiri.

4. Jawaban respinden yang tidak merata dan tidak konsisten.

 Terkait cara yang dapat dilakukan untuk mensiasati  atau mengantisipasi masalah tersebut supaya datanya valid, antara lain :

1. Merevisi pertanyaan dalam instrumen yang tidak valid. Selanjutnya menguji cobakan kembali kepada sampel. Namun hal ini membuang waktu dalam penelitian.

2. Membuang pertanyaan yang tidak valid. Namun harus diperhatikan bahwa pertanyaan yang di buang tersebut tidak mempengaruhi variabel yang akan diteliti. Misalnya dalam suatu instrumen angket untuk mengukur motivasi belajar siswa. Jika beberapa pertanyaan tidak valid dan peneliti membuang pertanyaan tersebut harus diperhatikan bahwa pertanyaan valid lainnya masih dapat mengukur motivasi belajar siswa. Hal ini dikarenakan suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur.

3. Membuat pertanyaan tambahan yang sesuai dengan indikator dari penelitian dan menguji cobakan kembali kepada sampel.

 Mungkin pendapat yang saya sampaikan bisa menjawab pertanyaan yang telah diberikan oleh teman-teman. Atau mungkin ada pendapat teman-teman yang lain terkait permasalahan yang sama silahkan.

 

6. Imam Al Anshori – 210321868004 – Memberi Jawaban

Menanggapi pertanyaan diatas. Saya rasa jawaban dari Saudara Brilliantama sudah cukup lengkap. Intinya jika instrumen yang dipakai ternyata tidak valid maka perlu adanya perbaikan. Perbaikan ini dapat berupah perbaikan pada soal-soal atau item yang yang belum valid atau menggantinya dengan item yang baru lalu melakukan uji validitas ulang terhadap instrumen. Selain perbaikan tersebut peneliti juga dapat mengeliminasi atau membuang item instrumen yang tidak valid.

Terkait antisipasi yang dapat dilakukan mungkin dengan membuat banyak instrumen yang mengandung komponen variabel ukur sehingga jika ada sebagai yang tidak valid kita tinggal mengeliminasinya tanpa takut mempengaruhi variabel yang akan diteliti.

 

7. Anindyta Nur Rizkyana Safitri – 210321868026 – Mengajukan Pertanyaan

Mengapa uji validitas wajib dilakukan dan mengapa sulit terpenuhi untuk penelitian yang menggunakan kuisioner?

 

8. Brilliantama Akbar Taufiq- 200321859517 – Memberi Jawaban

Mohon izin juga menanggapi pertanyaan yang disampaikan Mbak Anin. Dari hasil literasi yang saya baca, pengukuran validitas misalnya untuk kegiatan wawancara, kuesioner atau observasi harus sesuai dengan indikator penelitian. Instrumen untuk kegiatan wawancara ataupun kuesioner dapat berupa pedoman wawancara/kuesioner sedangkan kegiatan observasi dapat berupa lembar pengamatan dan panduan pengamatan. Uji validitas instrumen tersebut dapat menggunakan validitas konstruk dan isi yang telah dijelaskan pada makalah yang telah diberikan. Validitas isi bertujuan untuk melihat kesepakatan beberapa ahli untuk menilai sejauh mana instrumen tersebut dapat mewakili keseluruhan dalam penelitian. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah menyusun instrumen sesuai dengan indikator selanjutnya menemui para ahli untuk memberikan skor validasi sehingga bisa mengetahui instrumen tersebut bisa digunakan atau harus direvisi kembali. Terimakasih.

 

9. Imam Al Anshori - 210321868004 – Memberi Jawaban

Izin menanggapi dan menambahkan jawaban dari Saudara Brilliantama. Mengapa uji validitas wajib dilakukan? karena uji validitas dibutuhkan untuk memastikan kelayakan instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. Jika instrumen tersebut tidak melalui uji validitas maka hasil yang diperoleh dalam penelitian bisa saja tidak mewakili apa yang sebenarnya terjadi karena instrumen yang digunakan tidak mampu mengukur variabel yang diharapkan. 

Mengapa instrumen kuesioner sulit terpenuhi? Jadi kemungkinan menurut saya kebanyakan peneliti menganggap enteng pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam kuesioner sehingga pada saat pembuatannya menjadi tidak sesuai dengan apa yang ingin diukur. Karena suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Jadi kemungkinan menurut saya kebanyakan peneliti menganggap enteng pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam kuesioner sehingga pada saat pembuatannya menjadi tidak sesuai dengan apa yang ingin diukur.

Terimakasih

 

10. Fauzia Dwi Sasmita – 210321868017 – Mengajukan Pertanyaan

Saya izin bertanya, apakah uji validitas harus dilakukan sebelum pelaksanaan penelitian? atau bisa saja dilakukan uji validitas setelah pelaksanaan penelitian?

 

11. Imam Al Anshori - 210321868004 – Memberi Jawaban

Sesuai dengan tujuan dari uji validitas dimana uji validitas digunakan untuk menentukan kelayakan atau keabsahan dari suatu instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. Uji validitas harus dilakukan sebelum instrumen tersebut dipakai atau digunakan karena jika digunakan sebelum melewati uji validitas maka data yang dihasilkan bisa saja tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. 

Terimakasih

 

12. Shinta Dewi Susanti – 210321868014 – Mengajukan Pertanyaan

sekalian ijin bertanya uji validitas seperti apa yang cocok untuk mengecek valid tidaknya produk? misalkan modul

 

13. Imam Al Anshori - 210321868004 – Memberi Jawaban

Berdasarkan pemahaman saya uji validitas yang dapat digunakan untuk produk (modul) adalah uji validitas internal validitas isi (Content Validity) dan Validitas Konstruksi (Construct Validity). Validitas isi bertujuan untuk mengukur kedalaman dan keluasan materi yang terkandung dalam modul tersebut serta validitas konstruksi bertujuan untuk mengetahui kelayakan instrumen berdasarkan aspek-aspek penyusunannya.

Terimakasih

 

14. Magfira Cindy – 210321868012 – Mengajukan Pertanyaan

Mohon izin bertanya, mengingat pentingnya uji validitas untuk dilakukan namun dengan kondisi pandemi saat ini menyebabkan sulitnya mencari validator. Bagaimana alternatif solusi terhadap permasalahan tersebut?

Terima kasih.

 

15. Imam Al Anshori - 210321868004 – Memberi Jawaban

Izin menjawab 

Jika yang dimaksud validitas adalah ahli yang dapat memberikan penilaian terhadap instrumen yang kita buat mungkin dapat memanfaatkan bantuan teknologi seperti untuk berkomunikasi ataupun melakukan penilain melalui soft file karena mengingat adanya pembatasan akibat pandemi. Karena yang terpenting ahli tetap dapat menilai instrumen yang kita buat. Kalo itu berkaitan dengan uji coba lapangan mungkin akan sulit dilakukan walaupun dengan bantuan teknologi.

Terimakasih

 

16. M. Ali Alfian – 210321868023 – Mengajukan Pertanyaan

Saya izin bertanya, kalau saya membuat penelitian R n D media pembelajaran Fisikia. kira kira kepada siap uji validitas saya lakukan? dan apa saja yang kira-kira perlu divalidasi?

 

17. Imam Al Anshori - 210321868004 – Memberi Jawaban

Uji validitas yang dapat digunakan adalah uji validitas internal validitas isi (Content Validity) dan Validitas Konstruksi (Construct Validity). Validitas isi bertujuan untuk mengukur kedalaman dan keluasan materi yang terkandung dalam modul tersebut serta validitas konstruksi bertujuan untuk mengetahui kelayakan instrumen berdasarkan aspek-aspek penyusunannya. Uji validitas ini dapat dilakukan dengan penilaian ahli, contohnya pada penelitian ini kita dapat menunjukan dosen dosen jurusan pendidikan fisika yang berkompeten di bidang media pembelajaran sebagai validator.

 

18. Nurani Fitri - 210321868020 – Mengajukan Pertanyaan

Bismillah mohon izin bertanya.

Pemilihan uji validitas harus sesuai dengan jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian. Saya ingin menanyakan proses pemilihan uji validitas ini, bisa diberikan contoh jenis intrumen yang seperti apa biasanya uji validitasnya apa. Selain itu juga, pasti sering menemukan instrumen yang diuji dengan 2 uji validitas seperti uji validitas isi dan konstruk. Mengapa hal tersebut dilakukan, apakah validasi dengan satu uji saja tidak cukup. Mohon penjelasannya.

Terimakasih

 

19. Imam Al Anshori - 210321868004 – Memberi Jawaban

Izin menjawab

Suai dengan pertanyaan sebelumnya Contonya uji validitas yang dapat digunakan untuk modul adalah uji validitas internal validitas isi (Content Validity) dan Validitas Konstruksi (Construct Validity). Validitas isi bertujuan untuk mengukur kedalaman dan keluasan materi yang terkandung dalam modul tersebut serta validitas konstruksi bertujuan untuk mengetahui kelayakan instrumen berdasarkan aspek-aspek penyusunannya. 

Menggunakan 2 uji validitas pada contoh diatas disesuaikan dengan keinginan kita mau menentukan validitas instrumen tersebut dari segi apa. Namun perlu diperhatikan semakin banyak uji validitas yang digunakan maka semakin valid atau baik instrumen tersebut untuk digunakan. Oleh karena itu kita sering menjumpai peneliti yang menggunakan lebih dari 1 jenis uji validitas, hal itu bertujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. 

Terimakasih

 

20. Rizqiatul Hasanah – 210321868031 – Mengajukan Pertanyaan

Mohon maaf sebelumnya, diskusi teman2 di atas sangat mendukung pemahaman saya terhadap pentingnya uji validitas dan hal-hal apa saja yang harus diupayakan agar suatu instrumen dinyatakan valid. 

Di sini saya ingin bertanya, sebenarnya bagaimana gambaran proses uji validitas atau tahapan-tahapan uji validitas tersebut bagaimana?

 

21. Imam Al Anshori - 210321868004 – Memberi Jawaban

Proses validasi dapat dimulai setelah instrumen penelitian selesai dibuat. Peta mungkin dapat melakukan validitas internal dengan penilaian ahli. Jika ada perbaikan maka diperbaiki jika tidak ada bertai instrumen sudah valid secara internal selanjutnya untuk instrumen tes dapat dilakukan uji coba lapangan dan dilakukan uji validitas empiris dengan persamaan Korelasi product moment. Mungkin seperti itu  dari saya. Terimakasih

 

22. Hidayatullah Hana Putra – 210321868030 – Memberi Pertanyaan

Saya ingin bertanya, jika sebuah penelitian dilakukan dan tanpa ad uji validitas. Apakah penelitiannya bisa dianggap ilmiyah atau tidak ?

 

23. Imam Al Anshori - 210321868004 – Memberi Jawaban

Izin menjawab

Sesuai dengan tujuan dari uji validitas dimana uji validitas digunakan untuk menentukan kelayakan atau keabsahan dari suatu instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. JIka instrumen yang digunakan tidak melalui uji validitas maka data yang dihasilkan bisa saja tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. (salah)

 

Sub Topik 2

Miftahuljannah Muslimin - 210321868009

Topik Diskusi: Misalkan seorang peneliti menggunakan instrumen penelitian dari peneliti terdahulu (instrumen peneliti terdahulu sudah valid dan reliabel), apakah peneliti tersebut perlu melakukan uji reliabilitas terhadap instrumen tersebut?

 

TANGGAPAN TOPIK DISKUSI

 

1. Christina Martha – 210321868003 – Memberi Pendapat

Reliabilitas mengacu pada konsistensi pengukuran, yaitu seberapa stabil skor tes atau hasil penilaian lainnya dari satu pengukuran ke pengukuran lainnya.  Suatu instrumen yang reliabel artinya instrumen yang jika digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang konsisten dan stabil.

Menurut saya jika seorang peneliti ingin menggunakan instrumen penelitian dari peneliti terdahulu (instrumen peneliti terdahulu sudah valid dan reliabel), maka peneliti tersebut tidak perlu melakukan uji reliabilitas terhadap instrumen tersebut karena uji reliabilitas yang dilakukan sudah mengukur "konsistensi" dari instrumen penelitian tersebut. Namun tidak menjadi masalah jika ingin diuji lagi untuk memastikan lagi reliabilitasnya, sehubungan dengan sampel yang akan diuji dapat juga memiliki kondisi yang berbeda dari sampel yang diuji oleh peneliti terdahulu.

 

2. Miftahuljannah Muslimin – 210321868009 – Melengkapi pendapat

Jadi saya sependapat dengan yang disampaikan Saudara Brilliantama, kita lihat dulu instrumen ini diadaptasi atau diadopsi. Sehingga bisa memutuskan untuk melakukan uji validitas dan reliabilitas kembali. Sehingga sudah tepat kalau tidak ada salahnya jika instrumen kembali diuji validitas dan reliabilitasnya.

 

3. Neng Dyah Surya Pratama – 210321868002 – Memberi Pendapat

Jika kita menggunakan instrumen dari peneliti terdahulu, dan sudah jelas kalau instrumen tersebut valid, maka kita tidak diharuskan untuk melakukan uji lagi pada instrumen tersebut. akan tetapi jika ingin melakukan uji ulang, hal itu tidak dilarang atau diperbolehkan

 

4. Miftahuljannah Muslimin – 210321868009 – Melengkapi pendapat

Seperti pendapat yang disampaikan Saudari Fauziah, reliabilitas instrumen bersifat subjektif, artinya reliabilitas bisa bergantung pada responden yang sedang diuji, Jadi ketika instrumen yang kita adaptasi dari peneliti terdahulu ternyata reliabel, namun ada kemungkinan saat diujikan pada kelompok tertentu ternyata tidak reliabel. Sehingga tidak masalah untuk melakukan uji reliabilitas.

 

5. Fauzia Dwi Sasmita – 2103218680 – Memberi Pendapat

saya rasa reliabilitas instrumen sangat bergantung pada individu yang mengisi/memberikan penilian pada instrumen tersebut, sehingga saya rasa hasilnya bersifat subjektif. untuk kelompok tertentu mungkin hasilnya valid dan reliable, namun bukan berarti kelompok yang lain akan memberikan pendapat yang serupa. saya rasa, akan lebih baik jika kita menguji kembali instrumen tersebut.

 

6. Brilliantama Akbar Taufiq – 210321868025 – Memberi Pendapat

Terkait pertanyaan yang telah disampaikan oleh Penyaji dalam forum diskusi ini, saya sependapat dengan pernyataan yang disampaikan oleh Mbak Fauzia. Menurut saya, peneliti dapat mengadopsi atau mengadaptasi suatu instrumen penelitian. Suatu instrumen dikatakan diadopsi oleh peneliti lain saat instrumen tersebut digunakan secara utuh tanpa ada perubahan. Sedangkan adaptasi suatu instrumen dengan sedikit merubah instrumen tersebut sesuai dengan kebutuhan penelitian. Kedua hal tersebut berbeda. Uji validitas instrumen yang sudah ada digunakan saat instrumen tersebut diadopsi. Misalnya suatu instrumen penelitian dalam bentuk angket yang diambil dari buku berbahasa Inggris. Angket tersebut akan diujikan kepada responden yang berada di Indonesia. Hal ini mengharuskan angket tersebut untuk di terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Penyebabnya karena tidak semua responden di Indonesia dapat memahami angket dalam Bahasa Inggris. Oleh karena itu diperlukan suatu uji validitas. Semua jenis uji validitas dapat digunakan untuk menguji kevalidan angket yang telah diadopsi. Sedangkan jika suatu instrumen penelitian diadaptasi oleh peneliti, maka tidak wajib bagi peneliti untuk menguji valid tidaknya instrumen tersebut.

 

Selain itu apabila melihat dari baku atau tidak bakunya suatu instrumen penelitian. Instrumen penelitian yang baku adalah instrumen yang sudah teruji validitas dan reliabilitasnya. Sedangkan instrumen penelitian yang tidak baku adalah instrumen yahg belum teruji validitas dan reliabilitasnya. Jika dalam penelitian akan menggunakan indikator yang berasal dari suatu instrumen yang telah baku dan tanpa merubah apapun maka tidak perlu di uji kembali. Namun jika dalam pengambilan suatu indikator dengan merubah (modifikasi) meskipun hanya sedikit saja maka harus di uji kembali validitas dan reliabilitasnya.

 

7. Hidayatullah Hana Putra – 210321868030 – Memberi Pendapat

Menurut, saya jika seorang peneliti ingin melakukan uji reabilitas itu tidak jadi masalah, namun penjelasan dari dosen minggu lalu, jika sudah ada instrumen yang telah digunakan dan telah diuji reabel atau validnya. maka tidak perlu di uji lagi bahkan disarankan untuk menggunakan instrumen yang telah teruji dengan catatan bahwa kita sebagai seorang peneliti wajib mancantumkan nama orang yang melakukan uji validitas atau uji reabilitas.

 

8. Shinta Dewi Susanti – 210321868023 - Memberi Pendapat

menurut saya tidak perlu karenainstrumen tersebut sudah  terbukti valid dan reliabel

 

9.Kurnia Islamiyah – 210321868013 – Memberi Pendapat

Uji reliabilitas merupakan uji yang dilakukan untuk mengukur konsistensi suatu alat ukur, agar dapat mengetahui sejauh mana alat ukur tersebut dapat diandalkan dan dapat menghasilkan data yang konsisten bila digunakan berulang.

Jika sudah ada instrumen yang reliabel dari penelitian terdahulu, kita bisa menggunakannya, namun lebih baik jika diuji lagi.

 

10. Nurani Fitri – 210321868020 – Memberi Pendapat

Menurut saya uji reliabilitas tetap perlu dilakukan kembali, apalagi jika instrumen sudah lama, pasti ada banyak faktor yang mempengaruhi nilai reliabilitas instrumen tersebut jika digunakan di waktu atau subjek yang berbeda 

TANYA JAWAB

 

1. Brilliantama Akbar Taufiq – 210321868025 – Mengajukan Pertanyaan

Apabila sebuah alat tes telah mencapai validitas namun tidak reliabel, bagaimana kualitas alat tes tersebut? dan bagaimana jika terjadi kebalikannya? 

 

2. Miftahuljannah Muslimin - 2103218680 – Menanggapi Pertanyaan

Seperti yang diketahui dengan melakukan uji reliabilitas maka kita akan memperoleh informasi apakah instrumen tes dapat diandalkan dan dapat menghasilkan data yang konsisten jika digunakan berulang.

Ketika menjumpai kasus instrumen tes yang valid namun tidak reliabel, maka artinya instrumen tes tersebut tidak menghasilkan skor yang konsisten ketika digunakan kembali ke sampel yang sama dalam waktu berbeda atau ke sampel yang berbeda. Artinya kualitas instrumen kurang baik saat digunakan berulang namun tetap bisa digunakan karena berdasarkan uji validitas instrumen tersebut valid artinya instrumen tes relevan dengan tujuan diadakannya pengukuran.

 

3. Hidayatullah Hana Putra – 210321868030 – Mengajukan Pertanyaan

Apakah uji reabilitas harus dilakukan dengan menggunakan SPSS atau mungkin ada aplikasi lain ?

jika ada kira-kira aplikasi apakah yang cocok.

 

4. Miftahuljannah Muslimin - 2103218680 – Menanggapi Pertanyaan

Selain menggunakan aplikasi SPSS, untuk menghitung uji reliabilitas bisa menggunakan aplikasi Microsoft Excel. Memasukkan data penelitian pada excel kemudian dihitung menggunakan formula yang tersedia dalam excel. Tentu saja kita harus mengetahui terlebih dahulu jenis uji reliabilitas apa yang akan digunakan.

 

 

5. Shinta Dewi Susanti – 210321868023 - Mengajukan Pertanyaan

bagaimana jika ada kasus reliabilitas ulang terhadap suatu intrumen dan ternyata hasilnya tidak reliable? apakah instrumen itu pelu diperbaiki? atau seharusnya tidak digunakan

 

6. Miftahuljannah Muslimin - 2103218680 – Menanggapi Pertanyaan

Setelah melakukan uji reliabilitas ulang namun hasilnya tetap tidak reliabel, maka perlu melakukan perubahan terhadap instrumen tersebut ketika ingin digunakan kembali. Kemungkinan terdapat kesulitan responden memahami maksud dari pertanyaan dalam instrumen sehingga ketika diujikan kembali, tetap memberikan jawaban yang sama atau tidak terjadi perbaikan jawaban yang salah.

 

7. M. Ali Alfian – 210321868014 - Mengajukan Pertanyaan

Jika instrumen kelayakan media pembelajaran telah valid dan melakukan perubahan minor pada instrumen terdahulu yang valid. apakah perlu di uji kembali, misal intrumen media android digunakan oleh media berbasis Iphone

 

8. Miftahuljannah Muslimin - 2103218680 – Menanggapi Pertanyaan

Perlu melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap suatu instrumen meskipun instrumen tersebut telah valid, terlebih melakukan perubahan minor. Kenapa? Karena responden penelitian tentu saja berbeda, sehingga terdapat perbedaan pemahaman dalam menjawab instrumen. Sehingga lebih baik melakukan uji validitas dan reliabilitas kembali. Sehingga peneliti juga menjadi lebih yakin dengan instrumen yang digunakan.

 

9. Magfira Cindy Dianningrum – 2103218012 – Mengajukan Pertanyaan

Izin mengklarifikasi, dengan demikian validitas dan reliabilitas instrumen sebenarnya bergantung pada subjek penelitian tertentu karena hasilnya memiliki peluang berbeda jika diujikan kepada subjek lain. Namun, jika sudah ada instrumen yang terbukti valid dan reliabel, kita bisa menggunakan instrumen tersebut pada subjek yang berbeda dan dianggap hasil ujinya akan sama. Apakah yang saya tangkap sesuai dengan pendapat teman-teman?

 

10. Miftahuljannah Muslimin - 2103218680 – Menanggapi Pertanyaan

Sepemahaman saya seperti itu. Jadi tidak ada salahnya untuk melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap instrumen itu. Untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya jika kita ujikan ke responden kita

 

 

 

 

Notula ini benar-benar dibuat oleh seluruh anggota tim penyaji, dan di up load di sipejar pada tgl 22 September 2021

 


Rabu, 15 September 2021

UJI VALIDITAS

PENDAHULUAN

Penelitian adalah cara untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan adalah hal yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Dalam proses penelitian variabel-variabel yang berkaitan diukur menggunakan alat ukur tertentu yang biasa disebut sebagai instrumen. Alat-alat ukur yang digunakan dalam penelitian tentunya haruslah tepat dan sesuai dengan masalah yang diukur. Contohnya adalah alat ukur mistar cocok digunakan untuk mengukur panjang dan tidak cocok mengukur berat (Sugiyono, 2011), hal ini sama seperti dalam proses penelitian dimana dibutuhkan alat ukur yang sesuai dengan apa yang ingin diukur. 

Berdasarkan pernyataan di atas kita ketahui bahwa alat ukur atau instrumen sangatlah penting dalam suatu proses penelitian. Oleh karena itu penting pula bagi kita untuk dapat menentukan serta mendesain alat ukur yang sesuai dengan apa yang ingin kita ukur. Menurut Purwanto (2011) suatu alat ukur harus memenuhi syarat sebagai alat ukur yang baik. Sehingga mendesain dan menentukan alat ukur untuk suatu penelitian itu tidaklah mudah, banyak hal yang harus diperhatikan dalam menentukan alat ukur yang digunakan, salah satunya adalah validitas dari alat ukur tersebut. Suatu alat ukur yang digunakan dalam penelitian dinyatakan valid apabila sudah melalui proses uji validitas terlebih dahulu. Oleh karena itu pada makalah ini penulis ingin menjelaskan dan membahas tentang apa yang dimaksud dengan uji validitas dan bagaimana cara melakukan uji validitas. 

Makalah lengkapnya dapat teman-teman download lewat link dibawah ini 

https://drive.google.com/file/d/12dnv_JF35HMo1QqZhnTsnFtNPtfRetFY/view?usp=sharing



Selasa, 14 September 2021

UJI RELIABILITAS

 

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

                Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah guna menelaah suatu masalah secara sistematis agar dapat menyelesaikan permasalah tersebut. Sebagai suatu kegiatan yang sistematis, maka penelitian harus dilakukan dengan metode tertentu yang lazim disebut metode penelitian, yakni suatu cara ilmiah untuk memperoleh data dengan tujuan tertentu yang harus rasional, empiris, dan sistematis. Prinsip penelitian adalah melakukan pengukuran, sehingga perlu alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian.

Instrumen-instrumen tersebut digunakan untuk mengukur variabel. Sebelum digunakan dalam penelitian, instrumen terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya.

Validitas adalah derajat ketepatan suatu alat ukur (instrumen) untuk mengukur apa yang semestinya diukur. Sedangkan reliabilitas mengacu pada konsistensi pengukuran, yaitu seberapa stabil skor tes atau hasil penilaian lainnya dari satu pengukuran ke pengukuran lainnya. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk memperoleh data (mengukur) itu valid. Suatu instrumen yang reliabel artinya instrumen yang jika digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang konsisten dan stabil. Dengan menggunakan suatu instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan valid dan reliabel.

Instrumen yang reliabel belum tentu valid. Reliabilitas instrumen adalah syarat untuk pengujian validitas instrumen. Oleh karena itu, meskipun suatu instrumen yang valid biasanya reliabel namun peneliti tetap perlu melakukan pengujian reliabilitas. Pada makalah ini, bahasan yang difokuskan adalah penjelasan tentang uji reliabilitas instrumen.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:

1. Apa yang dimaksud dengan reliabilitas instrumen penelitian?

2. Apa saja jenis-jenis reliabilitas dalam pengujian reliabilitas instrumen?

3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi besar koefisien reliabilitas?

4. Bagaimana langkah-langkah pengujian reliabilitas dengan menggunakan aplikasi SPSS?

C. TUJUAN

Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan pengertian reliabilitas instrumen penelitian.

2. Menjelaskan jenis-jenis reliabilitas dalam pengujian reliabilitas instrumen

3. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi besar koefisien reliabilitas.

4. Menjelaskan langkah-langkah pengujian reliabilitas dengan menggunakan aplikasi SPSS.


BAB II
PEMBAHASAN

A. REALIBILITAS

1. Pengertian Reliabilitas

Reliabilitas merujuk pada ketepatan pengukuran. Creswell (2012) menyatakan reliabilitas artinya skor dari suatu instrumen harus stabil dan konsisten. Sedangkan menurut Sugiyono (2018), suatu instrumen dikatakan reliabel jika instrumen yang bila digunakan beberapa kali di waktu yang berbeda untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan skor yang sama. Oleh karena itu, uji reliabilitas merupakan uji yang dilakukan untuk mengukur konsistensi suatu alat ukur, agar dapat mengetahui sejauh mana alat ukur tersebut dapat diandalkan dan dapat menghasilkan data yang konsisten bila digunakan berulang. Reliabilitas merupakan syarat yang perlu tetapi tidak memadai untuk menentukan validitas instrumen. Instrumen yang valid umumnya pasti reliabel, namun instrumen yang reliabel belum tentu validitasnya (Sugiyono, 2018).

Reliabilitas terkait pula dengan kesalahan pengukuran. Reliabilitas tinggi menunjukkan kesalahan yang kecil dalam memeroleh hasil pengukuran. Semakin besar reabilitas suatu instrumen, maka semakin kecil kesalahan pengukuran, sebaliknya semakin kecil reliabilitas skor, akan semakin besar hasil kesalahan pengukurannya.

2. Koefisien Reliabilitas

            Secara umum, tinggi rendahnya reliabilitas dinyatakan dalam suatu nilai yang disebut koefisien reliabilitas. Reliabilitas I suatu tes pada umumnya diungkapkan secara numerik dalam bentuk koefisien yang besarnya -1,00 £ r £ +1,00. Koefisien tinggi menunjukkan reliabilitas tes tinggi. Sebaliknya, jika koefisien suatu skor rendah maka reliabilitas tes rendah. Jika suatu reliabilitas sempurna, berarti koefisien reliabilitas tersebut +1,00. Harapannya, koefisien reliabilitas bersifat positif. Adapun angka interpretasi koefisien reliabilitas menurut Sugiyono (2018) dapat dilihat pada Tabel 2.1.

                                        Tabel 2.1 Interpretasi Koefisien Korelasi

Interval Koefisien

Tingkat Hubungan

0,80 – 1,000

Sangat Tinggi

0,60 – 0,799

Tinggi

0,40 – 0,599

Sedang

0,20 – 0,399

Rendah

0,00 – 0,199

Sangat Rendah

B. JENIS-JENIS PENGUJIAN RELIABILITAS

Sugiyono (2018) menyatakan pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan dengan dua cara baik pengujian eksternal maupun pengujian internal. Secara eksternal pengujian reliabilitas dapat dilakukan dengan test-retest (stability), ekuivalen, dan gabungan kedunya. Sedangkan secara internal, pengujian reliabilitas dapat dilakukan dengan analisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu.

1. Pengujian Eksternal

a. Test-Retest

Test-retest adalah pengujian reliabilitas yang diperoleh melalui pemberian tes yang sama dua kali selama periode waktu tetentu kepada sekelompok individu. Dalam hal ini instrumennya sama, responden sama, tetapi waktu berbeda. Skor hasil uji pertama dan hasil uji kedua dapat dikorelasikan untuk mengevaluasi uji stabilitas. Bila koefisien  korelasi positif dan signifikan maka instrumen telah dinyatakan reliabel. Misalnya sebuah tes dirancang untuk menilai hasil belajar kognitif peserta didik dalam materi fluida, tes tersbut dapat diberikan sebanyak dua kali. Tes yang kedua dilakukan seminggu setelah tes yang pertama dilakukan. Koefisien korelasi yang diperoleh menunjukkan stabilitas tes. Bila koefisiennya positif dan signifikan maka instrumen reliabel.

b. Ekuivalen / Parallel forms / Alternate forms

Ekuivalen adalah pengujian reliabilitas yang diperoleh melalui pemberian instrumen tes yang isi pertanyaan secara kata-kata berbeda namun memiliki maksud yang sama. Jadi dalam hal ini ada dua soal yang paralel, artinya masing-masing soal disusun tersendiri, tingkat kesukaran sama, jumlah butir soal sama, isi dan bentuk sama, waktu serta petunjuk menyelesaikan soal juga sama. Pengujian reliabilitas dengan car aini hanya dilakukan sekali dengan responden sama, waktu sama namun instrumen yang berbeda. Koefisien reliabilitasnya diperoleh dengan mengkorelasikan kedua hasil pengukuran tersebut.

c. Gabungan

            Pengujian reliabilitas dengan cara ini dilakukan dengan menggunakan gabungan kedua cara di atas. Artinya dua instrumen yang ekuivalen diberikan beberapa kali ke responden yang sama. Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan kedua instrumen, lalu dikorelasikan pada pengujian kedua, dan selanjutnya dikorelasikan secara silang. Hasilnya akan diperoleh enam buah koefisien korelasi. Hal ini dapat digambarkan seperti Gambar 2.1 berikut:

                                          

Gambar 2.1 Pengujian Reliabilitas Gabungan


2. Konsistensi Internal

            Pandangan reliabilitas sebagi konsistensi internal adalalah suatu instrumen dikatakan reliabel apabila hasil pengukuran pada butir-butir secara internal hasilnya stabil dan konsisten. Anggapan bahwa setiap butir bersifat homogen serta mengukur hal yang sama maka hasil ukur butir-butir seharusnya konsisten. Pengujian reliabilitas dengan konsistensi internal dilakukan tanpa mengembangkan instrumen alternatif (ekuivalen) dan tanpa memberikan tes dua kali pada responden yang sama (Gregory, 2015). Dalam metode ini, peneliti berusaha menentukan apakah instrumen cenderung menunjukkan korelasi yang konsisten.

            Menurut Basuki (2014) metode pengujian reliabilitas instrumen dapat dikelompokkan menjadi dua berdasarkan banyaknya butir soal yaitu 1) jumlah butir genap, dan 2) jumlah butir ganjil. Jika jumlah butir genap, metode pengujian reliabilitas dengan metode belah dua (split half method) pada butir soal dengan jumlah yang sama banyak. Pembagian butir dapat dilakukan menggunakan nomor butir ganjil-genap atau nomor butir awal-akhir. Metode pengujian dapat dilakukan dengan teknik dari Spearman Brown, Flanagan dan Rulon. Jika jumlah butir soalnya ganjil maka tidak bisa di belah menjadi dua bagian. Oleh karena itu, digunakan teknik Kuder Richardson, Anova Hoyt atau Alfa Cronbach.

1.      Rumus Spearman Brown

            Koefisian reliabilitas dengan rumus Spearman Brown dapat dihitung dengan rumus:

                                                                                                                    

dimana

ri          = reliabilitas internal seluruh instrumen

rb         = korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua

2. Rumus Flanagan

Koefisian reliabilitas dengan rumus Flanagan dapat dihitung dengan rumus:

                                                            
dimana

ri             = koefisien reliabilitas

S12         = varians skor butir belahan pertama

S22         = varians skor butir belahan kedua

St2          = varians skor butir total

3. Rumus Rulon

Koefisian reliabilitas dengan rumus Rulon dapat dihitung dengan rumus:

                                                                                                                     

dimana

ri          = koefisien reliabilitas

Sd2       = varians skor beda

St2        = varians skor butir total

4. Rumus KR-20

Koefisian reliabilitas dapat ditentukan melalui pendekatan Kuder Richardson-20 dengan rumus:

                                                                                                              

dimana

ri          = koefisien reliabilitas

k          = jumlah item dalam instrumen

pi         = proporsi subyek yang menjawap pada item i

qi         = 1 – pi

St2        = varians total

5. Rumus KR-21

Koefisian reliabilitas dapat ditentukan melalui pendekatan Kuder Richardson-21 dengan rumus:

                                                                                      dimana

ri= koefisien reliabilitas

k= jumlah item dalam instrumen

M= jumlah skor total

St2= varians total                       

6. Rumus Analisis Varians Hoyt (Anova Hoyt)

Koefisian reliabilitas dapat ditentukan melalui pendekatan Kuder Richardson-21 dengan rumus:

                                                                                                                      

dimana

ri          = koefisien reliabilitas

Mks     = mean kuadrat antara subyek

Mke     = mean kuadrat kesalahan

7. Rumus Alfa Cronbach (Koefisien Alfa)

Koefisian reliabilitas dapat ditentukan melalui teknik Alfa Cronbach untuk jenis data interval/essay:

                                                                                                                    

dimana

rα            = koefisien alfa

N         = jumlah item dalam instrumen

Σσj2       = jumlah varians butir ke-j

σ2           = varians total

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUJIAN RELIABILITAS

Pertimbangan terhadap faktor yang mempengaruhi reliabilitas tidak hanya membantu menginterpretasi lebih bijak koefisien reliabilitas dari standar tes tetapi juga membantu dalam membangun kelas yang lebih reliabel. Menurut Koul (2016) reliabilitas tes dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dijelaskan sebagai berikut:

1.      1.Jumlah tes dalam instrumen

Semakin banyak jumlah tes dalam instrumen maka semakin tinggi reliabilitasnya begitu pula sebaliknya. Tes yang banyak cenderung mengurangi pengaruh faktor kebetulan seperti menebak jawaban.

2. Konstruksi tes

Jenis tes, tingkat kesulitan, objektivitas penilaian, dan tanggapan alternatif adalah faktor-faktor yang mempengaruhi reliabilitas

3. Sifat responden.

Reliabilitas tes akan lebih besar jika tes diberikan kepada responden yang heterogen. Semakin banyak variabilitas, semakin tinggi koefisien reliabilitasnya.

4. Kondisi pengujian

Jika kondisi pengujian tidak sama di semua tempat, maka akan diperoleh perbedaan skor. Kualitas tes dan faktor lingkungan di sekitar peserta tes mempengaruhi reliabilitas tes.

5. Kebetulan dan kesalahan saat menebak

Menebak membuka jalan untuk meningkatkan kesalahan varians dan mengurangi reliabilitas. Jika ada lebih banyak kesempatan untuk menebak dalam tes, tes akan menghasilkan hasil reliabilitas yang rendah.

6. Instruksi tes

            Jika instruksi tes terlalu rumit dan sulit dipahami, maka akan diperoleh skor yang kurang konsisten. Jika responden tidak memahami instruksi dengann benar, cara meresponnya akan salah dan akan berpengaruh pada reliabilitas tes.

7. Tes yang terlalu mudah atau terlalu sulit

            Tes yang terlalu mudah atau terlalu sulit gagal membedakan siswa yang baik dan siswa yang buruk dalam menjawab tes yang mana mempengaruhi reliabilitas tes.

D. PENGUJIAN RELIABILITAS DENGAN SPSS

            SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) merupakan sebuah program komputer (software) yang dapat digunakan untuk analisis statistika. SPSS digunakan untuk analisis data yang popular digunakan diuniversitas, perusahaan, dan instansi. Berikut ini akan disajikan contoh penggunaan SPSS beserta langkah-langkahnya untuk menguji reliabilitas suatu instrumen. Data yang digunakan adalah skor hasil uji coba instrumen tes keterampilan berpikir gaya dan gerak mahasiswa yang terdiri dari 9 butir soal dan diujikan pada 64 responden.

Tabel 2.2 Data Hasil Uji Coba Instrumen 

Sampel

Butir Soal

Total

1

2

3

4

5

6

7

8

9

1

2

3

2

2

4

3

2

2

3

23

2

4

4

3

5

5

4

2

2

3

32

3

1

4

2

4

3

2

5

2

2

25

4

4

4

2

5

2

3

4

3

3

30

5

4

4

2

4

4

1

1

2

3

25

6

4

3

2

4

2

1

1

2

3

22

7

3

3

2

5

2

2

2

1

3

23

8

2

3

2

4

3

1

5

2

4

26

9

5

4

3

3

2

2

5

5

4

33

10

5

5

1

5

1

5

3

4

3

32

11

4

4

3

5

3

1

2

2

4

28

12

5

4

3

5

3

5

5

3

5

38

13

4

4

3

4

4

2

3

1

5

30

14

3

3

2

1

2

1

1

5

2

20

15

4

3

3

2

1

2

1

3

5

24

16

2

3

2

3

1

2

1

1

3

18

17

3

4

1

3

2

2

3

2

5

25

18

4

3

2

4

3

2

3

2

3

26

19

3

4

2

4

2

3

2

2

5

27

20

2

3

2

3

4

3

2

2

5

26

21

3

3

2

4

1

5

2

1

3

24

22

2

3

1

1

1

2

2

2

2

16

23

1

3

1

2

1

1

1

1

2

13

24

3

3

1

3

3

1

2

1

3

20

25

2

3

3

4

1

1

2

4

5

25

26

4

3

2

4

1

1

2

1

3

21

27

3

3

1

4

3

3

2

2

3

24

28

3

3

1

1

1

1

2

2

2

16

29

2

2

1

2

3

2

2

2

2

18

30

5

5

1

5

4

5

1

2

5

33

31

5

3

5

3

1

5

5

5

5

37

32

3

4

2

4

4

2

2

5

3

29

33

2

4

3

3

3

3

1

3

3

25

34

2

4

3

4

3

3

1

2

3

25

35

4

4

2

4

2

1

2

1

3

23

36

4

4

2

4

1

3

5

5

5

33

37

4

3

2

4

1

4

1

1

3

23

38

3

2

2

1

3

2

1

2

4

20

39

2

4

2

2

1

2

2

2

3

20

40

4

3

3

3

1

2

1

2

3

22

41

2

4

3

4

4

5

2

2

1

27

42

2

3

2

4

4

2

2

2

5

26

43

1

3

4

4

1

1

5

2

4

25

44

2

3

2

1

3

3

3

1

3

21

45

4

3

3

4

1

5

3

3

4

30

46

2

4

2

4

4

2

3

1

4

26

47

2

3

2

4

1

2

5

1

3

23

48

3

5

2

5

3

1

1

1

4

25

49

2

3

1

1

1

1

1

1

2

13

50

4

4

5

3

4

3

5

2

5

35

51

4

3

4

4

1

2

4

4

3

29

52

4

3

2

4

2

2

1

1

3

22

53

2

3

1

1

1

2

2

2

3

17

54

1

3

2

3

1

2

3

1

3

19

55

3

3

2

3

3

3

1

1

2

21

56

4

3

1

3

4

4

1

2

3

25

57

1

3

1

1

1

1

3

2

3

16

58

4

4

2

4

3

3

2

2

3

27

59

2

3

2

2

3

3

1

2

2

20

60

4

4

2

4

1

2

3

1

5

26

61

2

3

2

4

1

2

2

1

4

21

62

3

2

2

1

1

2

2

1

2

16

63

4

3

1

1

1

2

1

2

4

19

64

3

4

1

1

3

3

1

2

2

20

Adapun langkah-langkah pengujian reliailitas instrumen menggunakan aplikasi SPSS adalah sebagai berikut:

1.Membuka lembar kerja baru dalam SPSS. 


Gambar 2.2 Langkah 1 Uji Reliabilitas Instrumen dengan SPSS

2.Klik Variable View pada SPSS data editor, lalu pada bagian Name ganti menjadi item_1 sampai item_9, selanjutnya pada bagian Decimals ganti menjadi 0, dan pada Measure ganti menjadi Scale. Pada bagian ini sesuaikan dengan kebutuhan pengujian.


Gambar 2.3 Langkah 2 Uji Reliabilitas Instrumen dengan SPSS

3.Menganalisis data dengan memilih AnalyzeScaleReliability Analysis seperti pada gambar berikut


Gambar 2.4 Langkah 3 Uji Reliabilitas Instrumen dengan SPSS

4. Setelah itu akan muncul kotak dialog seperti berikut. Pindahkan seluruh variable yang valid ke kotak Items. Kemudian pilih model analisis yang ingin digunakan (Misalnya  Alpha)

Gambar 2.5 Langkah 4 Uji Reliabilitas Instrumen dengan SPSS

5. Kemudian klik Statistics lalu centang Scale if item deleted lalu Continue pada kotak dialog.


Gambar 2.6 Langkah 5 Uji Reliabilitas Instrumen dengan SPSS

Kemudian klik OK, maka akan muncul hasil analisis seperti berikut:

                                Gambar 2.7 Hasil Analisis Statistik Reliabilitas Instrumen

          

Gambar 2.8 Hasil Analisis Statistik Keseluruhan Butir Soal

            Berdasarkan Gambar 2.8 diperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0.704 yang artinya instrumen tersebut reliabel untuk digunakan dalam penelitian karena α > 0.599.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan beberapa hal diantaranya:

1. Reliabilitas adalah mengacu pada konsistensi pengukuran, yaitu seberapa stabil skor tes atau hasil penilaian lainnya dari satu pengukuran ke pengukuran lainnya. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila dipakai beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama maka hasil yang diperoleh stabil dan konsisten.

2. Pengujian reliabilitas terdiri dari dua yaitu pengujian eksternal (test-retest, equivalent/parallel-form, gabungan dari keduanya) dan pengujian internal (Spearman-Brown, Flanagan, Rulon, KR-20, KR-21, Anova Hoyt, dan Cronbach Alpha).

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi reliabilitas tes yaitu: jumlah banyaknya tes, konstruksi tes, sifat responden, kondisi pengujian, kebetulan dan kesalahan saat menebak, instruksi tes, dan tes yang terlalu mudah atau terlalu sulit.

4. Pengujian reliabilitas dengan menggunakan SPSS tidak memerlukan terlalu banyak langkah yang rumit. Aplikasi SPSS ini memudahkan penggunanya untuk melakukan berbagai analisis statistik, termasuk uji reliabilitas.

B. SARAN

                Sebelum melakukan penelitian, peneliti perlu menguji reliabilitas dari instrumen yang hendak digunakan agar diperoleh data yang akurat dan tepat sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Peneliti juga harus memahami dengan baik pemilihan jenis pengujian reliabilitas yang sesuai dengan kebutuhan penelitiannya.


DAFTAR PUSTAKA

Basuki, W. 2014. Metode Penelitian Pendidikan. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka

Creswell, J. W. 2012. Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating

Quantitative and Qualitative Research Fourth Edition. Boston: Pearson

Gregory, R. J. 2015. Psychological Testing: History, Principles, and Applications Seventh

Edition. Inggris: Pearson Education Limited

Koul, L. 2016. Measurement and Evaluation in Education. New Delhi: Vikas Publishing

House.

Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.

Bandung: Alfabeta

NOTULA PERTEMUAN DUA BELAS

  NOTULA PERTEMUAN DUA BELAS Matakuliah: PFISUM8105 – Statistik Inferensial Offering : B   Perkuliahan Pertemuan ke-12 Tanggal :...