NOTULA
PERTEMUAN KEDUA
Matakuliah: PFISUM8105 – Statistik
Inferensial
Offering : B
Perkuliahan
Pertemuan ke-3
Tanggal:
15 September 2021
s/d 22
September 2021
TEMA/TOPIK: Uji
Validitas dan Reliabilitas
PEMAKALAH
|
No |
NIM |
Nama Mahasiswa |
Judul sub-Makalah |
|
1 |
210321868004 |
Imam
Al Anshori |
Uji
Validitas |
|
2 |
210321868009 |
Miftahuljannah
Muslimin |
Uji
Reliabilitas |
KEHADIRAN
MAHASISWA
1. Jumlah seluruh mahasiswa peserta matakuliah : 16 mahasiswa
2. Jumlah mahasiswa yang hadir : 16 mahasiswa
3. Jumlah mahasiswa yang TIDAK hadir :
0
mahasiswa
|
No |
NIM |
Nama Mahasiswa TIDAK hadir |
Alasan TIDAK hadir |
|
1 |
…… |
…….. |
…… |
Catatan:
Mahasiswa dinyatakan TIDAK hadir
·
jika
ia seorang penyaji, maka ia TIDAK
melalukan 3 hal berikut: (1) membuat 1 submakalah, (2) melemparkan topik
diskusi, dan (3) menjawab semua pertanyaan yang berkait dengan submakalah, dan
atau menanggapi saran/pendapat bukan anggota
·
jika
ia bukan penyaji, maka ia TIDAK
melalukan 3 hal berikut: (1) mengajukan pertanyaan, (2) menanggapi saran/pendapat
mahasiswa lain, dan (3) mengumpulan tugas esei kecil
NOTULA
DISKUSI
Sub Topik 1
Imam Al Anshori –
210321868004 - Penyaji
Topik Diskusi: Apa tujuan dari uji
validitas dan seberapa penting uji validitas dilakukan? Instrumen yang
seperti apa yang dikatakan valid? Silahkan bagi teman-teman yang ingin
berpendapat. Sekian terimakasih
TANGGAPAN
TERHADAP TOPIK DISKUSI
1.
Christina Martha – 210321868003–Memberi Pendapat
1) Tujuan dari uji validitas dan seberapa
penting uji validitas dilakukan
Validitas adalah tingkatan atau
ukuran dari ketepatan suatu instrumen dalam mengukur objek yang diukur, maka
tujuan dari uji validitas adalah agar suatu instrumen yang akan digunakan
sebagai penelitian sudah tepat dan valid. Hal ini penting agar tidak memakan
waktu yang lama untuk trial and error karena instrumen penelitiannya sudah
diatur validitasnya sebelum digunakan.
2)
Instrumen yang seperti apa yang dikatakan valid
Jika nilai signifikansi (sig) hasil
korelasi lebih kecil dari 0,05 (5%) maka dinyatakan valid dan jika tidak maka
tidak valid (arinya butir pertanyaan tersebut gugur) => menggunakan rumus
product moment correlation seperti tercantum pada makalah
Sekian dari saya, terima kasih.
2.
Neng
Dyah Surya Pratama – 210321868002 - Memberi Pendapat
Uji validitas dikatakan penting
karena uji ini digunakan untuk menunjukkan sejauh mana alat ukur yang digunakan
dalam suatu mengukur apa yang diukur. atau bisa dikatakan uji ini digunakan
untuk mengukur sah, atau valid tidaknya suatu kuesioner/instrumen. Suatu
kuesioner/instrumen dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner/instrumen
tersebut mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh
kuesioner/instrumen tersebut
3.
Brilliantama Akbar Taufiq – 210321868025 – Memberi Pendapat
Uji validitas penting untuk
dilakukan karena uji ini digunakan untuk menunjukkan atau mengetahui valid
tidaknya suatu instrumen dalam penelitian. Suatu instrumen dikatakan valid
apabila indikator yang terdapat pada instrumen tersebut mampu untuk
mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh instrumen tersebut dan memenuhi
syarat.
4.
Shinta
Dewi Susanti –
210321868014 – Memberi Pendapat
Ijin menanggapi, apabila setiap instrumen
yang ada dapat digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dan dapat mengukur
dengan sebenar benarnya, jadi misal yang biasanya memiliki nilai rendah akan
terukur rendah....bukan malah sebaliknya
5.
Kurnia Islamiyah –
210321868013 – Memberi Pendapat
Tujuan uji validitas yaitu
untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen
pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya yaitu agar data yang diperoleh bisa
relevan/sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran tersebut. Instrumen
dikatakan valid jia suatu alat ukur (instrumen) untuk mengukur apa yang
semestinya diukur.
6.
Revitasta
Rizky Rahmanniar – 210321868011 – Memberi Pendapat
Menurut saya uji validitas dalam
penelitian sangat penting untuk dilakukan sebab dengan uji validitas yang
dilakukan dapat menyatakan derajat ketepatan alat ukur penelitian terhadap apa
yang akan diukur. Dimana dengan uji validitas kita dapat mengetahui sah atau
valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan
pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh
kuesioner tersebut.
TANYA
JAWAB
1. Selvina Visbad Saiya –
200321859517 – Mengajukan Pertanyaan
Bagaimanakah cara untuk menentukan
jenis validitas dan reabilitas dengan tepat yang dapat digunakan seorang
peneliti saat ia ingin melakukan suatu penelitian mengingat jenis validitas dan
reabilitan dlm penelitian itu banyak?
2.
Miftahuljannah Muslimin –
210321868009 – Memberi Jawaban
Untuk menentukan uji validitas dan
reliabilitas yang digunakan bergantung pada bentuk instrumen penelitian.
Misalnya instrumen minat belajar dapat dilakukan uji validitas konstruk dan
untuk uji reliabilitas dapat menggunakan cronbach's alpha. Validitas konstruk
sendiri biasa digunakan untuk menguji variabel-variabel konsep seperti minat
belajar. Untuk Cronbach;s Alpha digunkana untuk menguji reliabilitas instrumen
yang skornya bukan 0 dna 1 melainkan berbentuk skala likert.
3.
Imam Al Anshori – 210321868004
– Memberi Jawaban
Sependapat dengan jawaban mbak
Miftahuljannah Muslimin
Jenis uji validitas yang digunakan
dapat disesuaikan dengan kebutuhan instrumen yang dibuat. Uji validitas dan
reliabilitas bertujuan untuk memastikan kelayakan instrumen yang digunakan
dalam penelitian. Contohnya jika ingin mengetahui kelayakan suatu instrumen
secara kedalaman dan keluasan materi maka dapat dilakukan validitas isi.
4.
Neng
Dyah Surya Pratama – 210321868002 - Mengajukan Pertanyaan
Jika data tersebut tidak
valid, apakah ada cara yang bisa mensiasati masalah tersebut, atau antisipasi
apa yang harus dilakukan supaya datanya valid?
5.
Brilliantama
Akbar Taufiq- 200321859517 – Memberi Jawaban
Dari hasil literasi yang saya baca,
jika data tersebut tidak valid, mungkin ada faktor-faktor yang menyebabkan
suatu instrumen tidak valid antara lain
1. Instrumen penelitian yang tidak
dipahami responden.
2. Pertanyaan terlalu banyak dan
panjang pada instrumen penelitian.
3. Responden menjawab secara acak
tanpa melibatkan pemikiran diri sendiri.
4. Jawaban respinden yang tidak
merata dan tidak konsisten.
Terkait cara yang dapat
dilakukan untuk mensiasati atau mengantisipasi masalah tersebut supaya
datanya valid, antara lain :
1. Merevisi pertanyaan dalam instrumen
yang tidak valid. Selanjutnya menguji cobakan kembali kepada sampel. Namun hal
ini membuang waktu dalam penelitian.
2. Membuang pertanyaan yang tidak
valid. Namun harus diperhatikan bahwa pertanyaan yang di buang tersebut tidak
mempengaruhi variabel yang akan diteliti. Misalnya dalam suatu instrumen angket
untuk mengukur motivasi belajar siswa. Jika beberapa pertanyaan tidak valid dan
peneliti membuang pertanyaan tersebut harus diperhatikan bahwa pertanyaan valid
lainnya masih dapat mengukur motivasi belajar siswa. Hal ini dikarenakan suatu
instrumen dikatakan valid apabila mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur.
3. Membuat pertanyaan tambahan yang
sesuai dengan indikator dari penelitian dan menguji cobakan kembali kepada
sampel.
Mungkin pendapat yang saya
sampaikan bisa menjawab pertanyaan yang telah diberikan oleh teman-teman. Atau
mungkin ada pendapat teman-teman yang lain terkait permasalahan yang sama
silahkan.
6.
Imam Al Anshori – 210321868004 – Memberi
Jawaban
Menanggapi pertanyaan diatas. Saya
rasa jawaban dari Saudara Brilliantama sudah cukup lengkap. Intinya jika instrumen yang
dipakai ternyata tidak valid maka perlu adanya perbaikan. Perbaikan ini dapat
berupah perbaikan pada soal-soal atau item yang yang belum valid atau
menggantinya dengan item yang baru lalu melakukan uji validitas ulang terhadap
instrumen. Selain perbaikan tersebut peneliti juga dapat mengeliminasi atau
membuang item instrumen yang tidak valid.
Terkait antisipasi yang dapat
dilakukan mungkin dengan membuat banyak instrumen yang mengandung komponen
variabel ukur sehingga jika ada sebagai yang tidak valid kita tinggal
mengeliminasinya tanpa takut mempengaruhi variabel yang akan diteliti.
7.
Anindyta
Nur Rizkyana Safitri – 210321868026 – Mengajukan Pertanyaan
Mengapa uji validitas wajib
dilakukan dan mengapa sulit terpenuhi untuk penelitian yang menggunakan
kuisioner?
8.
Brilliantama
Akbar Taufiq- 200321859517 – Memberi Jawaban
Mohon izin juga menanggapi
pertanyaan yang disampaikan Mbak Anin. Dari hasil literasi yang saya baca,
pengukuran validitas misalnya untuk kegiatan wawancara, kuesioner atau
observasi harus sesuai dengan indikator penelitian. Instrumen untuk kegiatan
wawancara ataupun kuesioner dapat berupa pedoman wawancara/kuesioner sedangkan
kegiatan observasi dapat berupa lembar pengamatan dan panduan pengamatan. Uji
validitas instrumen tersebut dapat menggunakan validitas konstruk dan isi yang
telah dijelaskan pada makalah yang telah diberikan. Validitas isi bertujuan
untuk melihat kesepakatan beberapa ahli untuk menilai sejauh mana instrumen
tersebut dapat mewakili keseluruhan dalam penelitian. Langkah-langkah yang dapat
dilakukan adalah menyusun instrumen sesuai dengan indikator selanjutnya menemui
para ahli untuk memberikan skor validasi sehingga bisa mengetahui instrumen
tersebut bisa digunakan atau harus direvisi kembali. Terimakasih.
9.
Imam Al Anshori -
210321868004 – Memberi Jawaban
Izin menanggapi dan menambahkan
jawaban dari Saudara Brilliantama. Mengapa uji validitas wajib
dilakukan? karena uji validitas dibutuhkan untuk memastikan kelayakan instrumen
yang akan digunakan dalam penelitian. Jika instrumen tersebut tidak melalui uji
validitas maka hasil yang diperoleh dalam penelitian bisa saja tidak mewakili apa
yang sebenarnya terjadi karena instrumen yang digunakan tidak mampu mengukur
variabel yang diharapkan.
Mengapa instrumen kuesioner sulit
terpenuhi? Jadi kemungkinan menurut saya kebanyakan peneliti menganggap enteng
pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam kuesioner sehingga pada saat
pembuatannya menjadi tidak sesuai dengan apa yang ingin diukur. Karena suatu
kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk
mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Jadi kemungkinan
menurut saya kebanyakan peneliti menganggap enteng pertanyaan-pertanyaan yang
terkandung dalam kuesioner sehingga pada saat pembuatannya menjadi tidak sesuai
dengan apa yang ingin diukur.
Terimakasih
10.
Fauzia
Dwi Sasmita – 210321868017 – Mengajukan Pertanyaan
Saya izin bertanya, apakah uji
validitas harus dilakukan sebelum pelaksanaan penelitian? atau bisa saja
dilakukan uji validitas setelah pelaksanaan penelitian?
11.
Imam Al Anshori -
210321868004 – Memberi Jawaban
Sesuai dengan tujuan dari uji
validitas dimana uji validitas digunakan untuk menentukan kelayakan atau
keabsahan dari suatu instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. Uji
validitas harus dilakukan sebelum instrumen tersebut dipakai atau digunakan
karena jika digunakan sebelum melewati uji validitas maka data yang dihasilkan
bisa saja tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Terimakasih
12.
Shinta
Dewi Susanti
–
210321868014 – Mengajukan Pertanyaan
sekalian ijin bertanya uji
validitas seperti apa yang cocok untuk mengecek valid tidaknya produk? misalkan
modul
13.
Imam Al Anshori -
210321868004 – Memberi Jawaban
Berdasarkan pemahaman saya uji
validitas yang dapat digunakan untuk produk (modul) adalah uji validitas
internal validitas isi (Content Validity) dan Validitas Konstruksi (Construct
Validity). Validitas isi bertujuan untuk mengukur kedalaman dan keluasan materi
yang terkandung dalam modul tersebut serta validitas konstruksi bertujuan untuk
mengetahui kelayakan instrumen berdasarkan aspek-aspek penyusunannya.
Terimakasih
14.
Magfira
Cindy – 210321868012 – Mengajukan Pertanyaan
Mohon izin bertanya, mengingat
pentingnya uji validitas untuk dilakukan namun dengan kondisi pandemi saat ini
menyebabkan sulitnya mencari validator. Bagaimana alternatif solusi terhadap
permasalahan tersebut?
Terima kasih.
15.
Imam Al Anshori -
210321868004 – Memberi Jawaban
Izin menjawab
Jika yang dimaksud validitas adalah
ahli yang dapat memberikan penilaian terhadap instrumen yang kita buat mungkin
dapat memanfaatkan bantuan teknologi seperti untuk berkomunikasi ataupun
melakukan penilain melalui soft file karena mengingat adanya pembatasan akibat
pandemi. Karena yang terpenting ahli tetap dapat menilai instrumen yang kita
buat. Kalo itu berkaitan dengan uji coba lapangan mungkin akan sulit dilakukan
walaupun dengan bantuan teknologi.
Terimakasih
16.
M. Ali Alfian
– 210321868023 – Mengajukan Pertanyaan
Saya izin bertanya, kalau saya
membuat penelitian R n D media pembelajaran Fisikia. kira kira kepada siap uji
validitas saya lakukan? dan apa saja yang kira-kira perlu divalidasi?
17.
Imam Al Anshori -
210321868004 – Memberi Jawaban
Uji validitas yang dapat digunakan
adalah uji validitas internal validitas isi (Content Validity) dan Validitas
Konstruksi (Construct Validity). Validitas isi bertujuan untuk mengukur
kedalaman dan keluasan materi yang terkandung dalam modul tersebut serta
validitas konstruksi bertujuan untuk mengetahui kelayakan instrumen berdasarkan
aspek-aspek penyusunannya. Uji validitas ini dapat dilakukan dengan penilaian
ahli, contohnya pada penelitian ini kita dapat menunjukan dosen dosen jurusan
pendidikan fisika yang berkompeten di bidang media pembelajaran sebagai
validator.
18.
Nurani Fitri
- 210321868020
– Mengajukan Pertanyaan
Bismillah mohon izin bertanya.
Pemilihan uji validitas harus
sesuai dengan jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian. Saya ingin
menanyakan proses pemilihan uji validitas ini, bisa diberikan contoh jenis
intrumen yang seperti apa biasanya uji validitasnya apa. Selain itu juga, pasti
sering menemukan instrumen yang diuji dengan 2 uji validitas seperti uji
validitas isi dan konstruk. Mengapa hal tersebut dilakukan, apakah validasi
dengan satu uji saja tidak cukup. Mohon penjelasannya.
Terimakasih
19.
Imam Al Anshori -
210321868004 – Memberi Jawaban
Izin menjawab
Suai dengan pertanyaan sebelumnya
Contonya uji validitas yang dapat digunakan untuk modul adalah uji validitas
internal validitas isi (Content Validity) dan Validitas Konstruksi (Construct
Validity). Validitas isi bertujuan untuk mengukur kedalaman dan keluasan materi
yang terkandung dalam modul tersebut serta validitas konstruksi bertujuan untuk
mengetahui kelayakan instrumen berdasarkan aspek-aspek penyusunannya.
Menggunakan 2 uji validitas pada
contoh diatas disesuaikan dengan keinginan kita mau menentukan validitas
instrumen tersebut dari segi apa. Namun perlu diperhatikan semakin banyak uji
validitas yang digunakan maka semakin valid atau baik instrumen tersebut untuk
digunakan. Oleh karena itu kita sering menjumpai peneliti yang menggunakan
lebih dari 1 jenis uji validitas, hal itu bertujuan untuk mendapatkan hasil
yang lebih baik.
Terimakasih
20.
Rizqiatul Hasanah –
210321868031 – Mengajukan Pertanyaan
Mohon maaf sebelumnya, diskusi
teman2 di atas sangat mendukung pemahaman saya terhadap pentingnya uji
validitas dan hal-hal apa saja yang harus diupayakan agar suatu instrumen
dinyatakan valid.
Di sini saya ingin bertanya,
sebenarnya bagaimana gambaran proses uji validitas atau tahapan-tahapan uji
validitas tersebut bagaimana?
21.
Imam Al Anshori -
210321868004 – Memberi Jawaban
Proses validasi dapat dimulai
setelah instrumen penelitian selesai dibuat. Peta mungkin dapat melakukan
validitas internal dengan penilaian ahli. Jika ada perbaikan maka diperbaiki
jika tidak ada bertai instrumen sudah valid secara internal selanjutnya untuk
instrumen tes dapat dilakukan uji coba lapangan dan dilakukan uji validitas
empiris dengan persamaan Korelasi product moment. Mungkin seperti itu
dari saya. Terimakasih
22.
Hidayatullah Hana Putra –
210321868030 – Memberi Pertanyaan
Saya ingin bertanya, jika sebuah
penelitian dilakukan dan tanpa ad uji validitas. Apakah penelitiannya bisa
dianggap ilmiyah atau tidak ?
23.
Imam Al Anshori -
210321868004 – Memberi Jawaban
Izin menjawab
Sesuai dengan tujuan dari uji
validitas dimana uji validitas digunakan untuk menentukan kelayakan atau
keabsahan dari suatu instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. JIka
instrumen yang digunakan tidak melalui uji validitas maka data yang dihasilkan
bisa saja tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. (salah)
Sub Topik 2
Miftahuljannah
Muslimin - 210321868009
Topik Diskusi: Misalkan
seorang peneliti menggunakan instrumen penelitian dari peneliti terdahulu
(instrumen peneliti terdahulu sudah valid dan reliabel), apakah peneliti
tersebut perlu melakukan uji reliabilitas terhadap instrumen tersebut?
TANGGAPAN TOPIK DISKUSI
1.
Christina Martha – 210321868003 – Memberi Pendapat
Reliabilitas mengacu pada
konsistensi pengukuran, yaitu seberapa stabil skor tes atau hasil penilaian
lainnya dari satu pengukuran ke pengukuran lainnya. Suatu instrumen yang
reliabel artinya instrumen yang jika digunakan beberapa kali untuk mengukur
obyek yang sama, akan menghasilkan data yang konsisten dan stabil.
Menurut saya jika seorang peneliti
ingin menggunakan instrumen penelitian dari peneliti terdahulu (instrumen peneliti
terdahulu sudah valid dan reliabel), maka peneliti tersebut tidak perlu
melakukan uji reliabilitas terhadap instrumen tersebut karena uji reliabilitas
yang dilakukan sudah mengukur "konsistensi" dari instrumen penelitian
tersebut. Namun tidak menjadi masalah jika ingin diuji lagi untuk memastikan
lagi reliabilitasnya, sehubungan dengan sampel yang akan diuji dapat juga
memiliki kondisi yang berbeda dari sampel yang diuji oleh peneliti terdahulu.
2.
Miftahuljannah Muslimin – 210321868009 – Melengkapi pendapat
Jadi saya sependapat dengan yang
disampaikan Saudara Brilliantama, kita lihat dulu instrumen ini diadaptasi atau
diadopsi. Sehingga bisa memutuskan untuk melakukan uji validitas dan
reliabilitas kembali. Sehingga sudah tepat kalau tidak ada salahnya jika
instrumen kembali diuji validitas dan reliabilitasnya.
3. Neng Dyah Surya Pratama –
210321868002 – Memberi Pendapat
Jika kita menggunakan instrumen
dari peneliti terdahulu, dan sudah jelas kalau instrumen tersebut valid, maka
kita tidak diharuskan untuk melakukan uji lagi pada instrumen tersebut. akan
tetapi jika ingin melakukan uji ulang, hal itu tidak dilarang atau
diperbolehkan
4. Miftahuljannah
Muslimin – 210321868009 – Melengkapi pendapat
Seperti pendapat yang disampaikan Saudari Fauziah, reliabilitas instrumen
bersifat subjektif, artinya reliabilitas bisa bergantung pada responden yang
sedang diuji, Jadi ketika instrumen yang kita adaptasi dari peneliti terdahulu
ternyata reliabel, namun ada kemungkinan saat diujikan pada kelompok tertentu
ternyata tidak reliabel. Sehingga tidak masalah untuk melakukan uji
reliabilitas.
5. Fauzia Dwi Sasmita –
2103218680 – Memberi Pendapat
saya rasa reliabilitas instrumen
sangat bergantung pada individu yang mengisi/memberikan penilian pada instrumen
tersebut, sehingga saya rasa hasilnya bersifat subjektif. untuk kelompok
tertentu mungkin hasilnya valid dan reliable, namun bukan berarti kelompok yang
lain akan memberikan pendapat yang serupa. saya rasa, akan lebih baik jika kita
menguji kembali instrumen tersebut.
6.
Brilliantama
Akbar Taufiq – 210321868025 – Memberi Pendapat
Terkait pertanyaan yang telah
disampaikan oleh Penyaji dalam forum diskusi ini, saya sependapat dengan
pernyataan yang disampaikan oleh Mbak Fauzia. Menurut saya, peneliti dapat
mengadopsi atau mengadaptasi suatu instrumen penelitian. Suatu instrumen
dikatakan diadopsi oleh peneliti lain saat instrumen tersebut digunakan secara
utuh tanpa ada perubahan. Sedangkan adaptasi suatu instrumen dengan sedikit
merubah instrumen tersebut sesuai dengan kebutuhan penelitian. Kedua hal
tersebut berbeda. Uji validitas instrumen yang sudah ada digunakan saat
instrumen tersebut diadopsi. Misalnya suatu instrumen penelitian dalam bentuk
angket yang diambil dari buku berbahasa Inggris. Angket tersebut akan diujikan
kepada responden yang berada di Indonesia. Hal ini mengharuskan angket tersebut
untuk di terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Penyebabnya karena tidak semua
responden di Indonesia dapat memahami angket dalam Bahasa Inggris. Oleh karena
itu diperlukan suatu uji validitas. Semua jenis uji validitas dapat digunakan
untuk menguji kevalidan angket yang telah diadopsi. Sedangkan jika suatu
instrumen penelitian diadaptasi oleh peneliti, maka tidak wajib bagi peneliti
untuk menguji valid tidaknya instrumen tersebut.
Selain itu apabila melihat dari
baku atau tidak bakunya suatu instrumen penelitian. Instrumen penelitian yang
baku adalah instrumen yang sudah teruji validitas dan reliabilitasnya.
Sedangkan instrumen penelitian yang tidak baku adalah instrumen yahg belum
teruji validitas dan reliabilitasnya. Jika dalam penelitian akan menggunakan
indikator yang berasal dari suatu instrumen yang telah baku dan tanpa merubah
apapun maka tidak perlu di uji kembali. Namun jika dalam pengambilan suatu
indikator dengan merubah (modifikasi) meskipun hanya sedikit saja maka harus di
uji kembali validitas dan reliabilitasnya.
7. Hidayatullah Hana Putra –
210321868030 – Memberi Pendapat
Menurut, saya jika seorang peneliti
ingin melakukan uji reabilitas itu tidak jadi masalah, namun penjelasan dari
dosen minggu lalu, jika sudah ada instrumen yang telah digunakan dan telah
diuji reabel atau validnya. maka tidak perlu di uji lagi bahkan disarankan
untuk menggunakan instrumen yang telah teruji dengan catatan bahwa kita sebagai
seorang peneliti wajib mancantumkan nama orang yang melakukan uji validitas
atau uji reabilitas.
8. Shinta
Dewi Susanti – 210321868023
- Memberi Pendapat
menurut saya tidak perlu
karenainstrumen tersebut sudah terbukti valid dan reliabel
9.Kurnia
Islamiyah – 210321868013 – Memberi Pendapat
Uji reliabilitas merupakan uji yang
dilakukan untuk mengukur konsistensi suatu alat ukur, agar dapat mengetahui
sejauh mana alat ukur tersebut dapat diandalkan dan dapat menghasilkan data yang
konsisten bila digunakan berulang.
Jika sudah ada instrumen yang
reliabel dari penelitian terdahulu, kita bisa menggunakannya, namun lebih baik
jika diuji lagi.
10.
Nurani Fitri
– 210321868020 –
Memberi Pendapat
Menurut saya uji
reliabilitas tetap perlu dilakukan kembali, apalagi jika instrumen sudah lama,
pasti ada banyak faktor yang mempengaruhi nilai reliabilitas instrumen tersebut
jika digunakan di waktu atau subjek yang berbeda
TANYA JAWAB
1. Brilliantama Akbar Taufiq –
210321868025 – Mengajukan Pertanyaan
Apabila sebuah alat tes
telah mencapai validitas namun tidak reliabel, bagaimana kualitas alat tes
tersebut? dan bagaimana jika terjadi kebalikannya?
2.
Miftahuljannah Muslimin - 2103218680
– Menanggapi Pertanyaan
Seperti yang diketahui dengan
melakukan uji reliabilitas maka kita akan memperoleh informasi apakah instrumen
tes dapat diandalkan dan dapat menghasilkan data yang konsisten jika digunakan
berulang.
Ketika menjumpai kasus instrumen
tes yang valid namun tidak reliabel, maka artinya instrumen tes tersebut tidak
menghasilkan skor yang konsisten ketika digunakan kembali ke sampel yang sama
dalam waktu berbeda atau ke sampel yang berbeda. Artinya kualitas instrumen
kurang baik saat digunakan berulang namun tetap bisa digunakan karena
berdasarkan uji validitas instrumen tersebut valid artinya instrumen tes
relevan dengan tujuan diadakannya pengukuran.
3. Hidayatullah Hana Putra –
210321868030 – Mengajukan Pertanyaan
Apakah uji reabilitas harus
dilakukan dengan menggunakan SPSS atau mungkin ada aplikasi lain ?
jika ada kira-kira aplikasi apakah
yang cocok.
4.
Miftahuljannah Muslimin - 2103218680
– Menanggapi Pertanyaan
Selain menggunakan aplikasi SPSS,
untuk menghitung uji reliabilitas bisa menggunakan aplikasi Microsoft Excel.
Memasukkan data penelitian pada excel kemudian dihitung menggunakan formula
yang tersedia dalam excel. Tentu saja kita harus mengetahui terlebih dahulu
jenis uji reliabilitas apa yang akan digunakan.
5. Shinta
Dewi Susanti – 210321868023
- Mengajukan Pertanyaan
bagaimana jika ada kasus
reliabilitas ulang terhadap suatu intrumen dan ternyata hasilnya tidak
reliable? apakah instrumen itu pelu diperbaiki? atau seharusnya tidak digunakan
6.
Miftahuljannah Muslimin - 2103218680
– Menanggapi Pertanyaan
Setelah melakukan uji reliabilitas
ulang namun hasilnya tetap tidak reliabel, maka perlu melakukan perubahan
terhadap instrumen tersebut ketika ingin digunakan kembali. Kemungkinan
terdapat kesulitan responden memahami maksud dari pertanyaan dalam instrumen
sehingga ketika diujikan kembali, tetap memberikan jawaban yang sama atau tidak
terjadi perbaikan jawaban yang salah.
7.
M. Ali
Alfian – 210321868014 - Mengajukan Pertanyaan
Jika instrumen kelayakan media
pembelajaran telah valid dan melakukan perubahan minor pada instrumen terdahulu
yang valid. apakah perlu di uji kembali, misal intrumen media android digunakan
oleh media berbasis Iphone
8.
Miftahuljannah Muslimin - 2103218680
– Menanggapi Pertanyaan
Perlu melakukan uji validitas dan
reliabilitas terhadap suatu instrumen meskipun instrumen tersebut telah valid,
terlebih melakukan perubahan minor. Kenapa? Karena responden penelitian tentu
saja berbeda, sehingga terdapat perbedaan pemahaman dalam menjawab instrumen.
Sehingga lebih baik melakukan uji validitas dan reliabilitas kembali. Sehingga
peneliti juga menjadi lebih yakin dengan instrumen yang digunakan.
9.
Magfira Cindy
Dianningrum – 2103218012
– Mengajukan Pertanyaan
Izin mengklarifikasi, dengan
demikian validitas dan reliabilitas instrumen sebenarnya bergantung pada subjek
penelitian tertentu karena hasilnya memiliki peluang berbeda jika diujikan
kepada subjek lain. Namun, jika sudah ada instrumen yang terbukti valid dan
reliabel, kita bisa menggunakan instrumen tersebut pada subjek yang berbeda dan
dianggap hasil ujinya akan sama. Apakah yang saya tangkap sesuai dengan
pendapat teman-teman?
10.
Miftahuljannah Muslimin - 2103218680
– Menanggapi Pertanyaan
Sepemahaman saya seperti itu. Jadi
tidak ada salahnya untuk melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap
instrumen itu. Untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya jika kita ujikan
ke responden kita
Notula ini benar-benar dibuat oleh seluruh anggota tim penyaji, dan di up
load di sipejar pada tgl 22 September 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar